Selasa, 18 Desember 2012

PERJUANGAN PARA PENDIDIK

Kisah Pak Joko: Lembaran Hitam Perjuangan Seorang Guru

REP | 24 April 2010 | 23:21 via Mobile Web Dibaca: 719   Komentar: 6   2 Bermanfaat
Ini adalah kisah lama yang tiba-tiba teringat ketika suatu malam yang larut, sebuah kisah yang tragis bagi seorang perantau.
Tahun 1995, saya melanjutkan pendidikan sekolah menengah umum di Maluku Utara, jarak yang sangat jauh tentunya dari Makassar. Tapi apa boleh buat, demi mencapai sebuah cita-cita, bocah yang tak berdaya ini mesti dititipkan kepada pamannya, nun jauh di sana, di kecamatan Bacan Maluku Utara.
Kultur budaya Maluku sedikit demi sedikit mengkondisikan diriku kala itu, walau sedikit ‘ keras’ , tapi kulturasi budaya yang beragam oleh pendatang membuat lingkungan yang saya hadapi begitu berwarna, tentu penuh dengan kisah-kisah menarik.
Di SMUku saya bersahabat dengan ketua osis, seorang yang pintar dan peduli. Selain beberapa kawan, saya juga menjalin interaksi dengan beberapa guru di luar sekolah, dalam artian bisa istilahkan dekat secara personal dan bersahabat.
Tahun 1996, Pak Joko, guru matematika yang pendiam itu terserang penyakit hepatitis. Dia datang ke maluku Utara sebatang kara sebagai guru. Demi tugas menjalankan tugas berangkat sendiri dari desa yang jauh di jawa timur.
Pak Joko adalah sosok yang guru pendiam, dia tak banyak bicara tetapi lebih banyak senyum, selalu pada setiap siswanya, dan siapa saja. Pribadi ini sangat favorit di kalangan kami yang aktif di ekstra sekolah, terutama ketika belajar kelompok,karena tak jarang beliau bersedia meluangkan waktunya menjelaskan mata pelajaran yang belum kami mengerti.
Pernah suatu ketika, kami menyuruh beliau menghentikan penjelasan matematikanya yang lugas, waktu itu mata beliau begitu kuning, pertanda sakit yang dia derita belum meninggalkan tubuhnya.
Tubuh pak joko, guru kami itu semakin hari semakin kurus, sudah terlalu sering dia bolak-balik puskesmas yang hanya di layani oleh seorang perawat, tak ada dokter. Pelayanan kesehatan di tempat ini sangat terbatas.
Keluarga beliau saat itu mungkin tak mengira, juga pak joko sendiri, jika penyakit hepatitis itu adalah penyakit yang berat. Di tempat kost pak Joko kerap kami jenguk. Sebuah kamar yang sederhana, di dalamnya bergelimpanagan buku-buku mata pelajaran, beberapa lembar pakaian tersusun dilipat pada rak kayu, juga meja dan kursi yang dipenuhi oleh lembar-lembar kertas hasil ulangan harian siswa-siswinya.
***
Di atas kapal kayu, deru mesin baling-baling berputar menghasilkan kekuatan dorong, kapal itu berangkat ke ternate. Malam itu juga.
Muhammad Ardani, kawanku. Ketua Osis kami mengantar sendiri pak Joko. Niatnya akan berobat ke ibu kota Ternate, mungkin di sana pak Joko akan menuai kesembuhan setelah beberapa bulan beliau masih saja bertahan dengan tubuhnya yang kerap lemas, juga kelopak mata yang semakin cekung.
Ardani, berkisah. Kawanku ini tak segan-segan memangku pak Joko, guru kami, ketika di atas kapal kayu itu pak Joko tak mampu lagi untuk duduk, walau sekedar untuk buang air. Di atas kapal yang diterpa gelombang tengah malam itu, tubuh guru dan murid itu berjibaku melawan waktu, demi sebuah harapan kesembuhan.
***
Hari itu, kami saling menatap satu sama lain dengan jiwa yang diam, tak ada yang banyak bicara. Ruang-ruang kelas kami tiba-tiba menjadi sebuah saksi akan adanya harapan yang tak sampai, hilang secara tiba-tiba.
Tak ada yang tahu secara detail seperti apa wajah anak tunggal dan istri guruku tercinta, pak Joko. Ketika dengan telegram itu mereka mengetahui bahwa Pak Joko ketika subuh hari masih di atas kapal, beliau menghembuskan nafas yang terkahir.
kawanku pulang dengan wajah yang pucat, demikian juga kami yang menunggu. Membayangkan wajah guru kami ini, hati kami akan terasa amat sedih, air mata kami telah kering sejak kabar itu hinggap di telinga.
Tahun 1998 saya meninggalkan Maluku Utara, sudah sejak lama beberapa kisah ingin kutulis, dan salah satunya kisah ini.
Pak Joko, Guru kami yang perantau.
Dirimu yang tulus telah terpatri pada jiwa kami siswamu, juga pada hati setiap anak didik yang paham pengorbananmu.
Nb: Tulisan ini untuk mengenang almarhum guru kami tercinta pak Joko, terima kasih selalu untukmu.
Salam kompasiana

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar